Eksistensi 711 di Filipina

Sevel hanya menjual minuman beralkohol kalangan menengah ke bawah.

Sevel hanya menjual minuman beralkohol kalangan menengah ke bawah.

Beberapa waktu belakangan ini kita tau bahwa 711 atau Seven Eleven (Sevel) resmi menutup semua gerainya di Indonesia. Entah apa yang sesungguhnya terjadi di internal perusahaan yang berpusat di Irving, Texas, Amerika Serikat itu.

Banyak yang bilang Sevel itu gak cocok buka di Indonesia. Mengapa? Karena tentunya masyarakat Indonesia sendiri yang mempunya sifat yang tidak baik yang berdampak buruk ke perusahaan Amerika tersebut. Sevel yang punya fasilitas wi-fi gratis dan tempat nongkrong yang gratis juga, tidak mewajibkan semua pengunjungnya untuk membeli, bahkan tak ada juga sistem waiting list, seperti layaknya cafe-cafe di luaran sana yang memiliki banyak pengunjung.

Masyarakat Indonesia yang doyan nongkrong pun banyak. Namun, mereka yang nongkrong di Sevel kebanyakan hanya membeli tak lebih dari 10 ribu rupiah dan bisa nongkrong samapi berjam-jam lamanya. Kebanyakan Sevel memang buka 24 jam, mengingat mereka memang selalu meletakkan gerainya di tempat-tempat besar yang strategis dan ramai pengunjung, dan layak untuk buka 24 jam.

Bisnis yang mereka buat pun sebenarnya sudah masuk ke kalangan menengah ke atas. Sevel bahkan sudah merencanakan ingin membuat semi restaurant untuk setiap gerai yang dibukanya di Jakarta. Namun malah kabar buruk yang gua dengar, yang sontak sempat menjadi trending topic di berbagai sosial media dan media pemberitaan di Indonesia soal drop nya perusahaan tersebut bahkan meruginya sang pemilik sampai ratusan miliar.

Geliat Sevel yang seperti itu di Indonesia, berkebalikan dengan yang gua liat di Filipina, khususnya kota Manila dan daerah provinsial lainnya (tentunya yang pernah gua kunjungi ya). Sevel di Filipina sangat menjamur, bahkan beberapa tempat yang pada awalnya kosong, gua liat langsung dibeli oleh Sevel untuk dibuat gerai baru.

Hal seperti ini sebenarnya sama seperti geliat Sevel waktu pertama kali buka di Indonesia. Perbedaan yang signifikan di Filipina adalah penjualan bir ataupun minuman keras atau alkohol yang bebas. berbeda dengan Indonesia yang memang aturannya tidak diperbolehkan menjual barang yang berbau bir dan juga alkohol.

Harga barang-barang yang dijual di Filipina, jika dibandingkan dengan Indonesia, memang sangat jauh lebih mahal di Indonesia. Contohnya saja gua beli minuman yang sama sama diproduksi di negara Indonesia dan Filipina, yaitu produk dari coca cola, yaitu pulpy orange.

Harga pulpy orange di Indonesia dengan harga normal adalah kisaran 7 ribu rupiah, namun jika pergi ke sevel, harganya bisa mencapai 11 ribu sampai dengan 13 ribu rupiah. Di Filipina, harga pulpy orange sekitar 25 peso. Jika 1 peso dikonversika ke rupiah ada dikisaran angka 265 rupiah, maka harga pulpy orange di Sevel Filipina tentu lebih murah di Indonesia, padahal notabene Sevel yang gua kunjungi adalah Sevel yang besar, dan terletak di bawah apartement gua tinggal.

Lalu bagaimana dengan minuman alkohol? Harga yang dijual di Filipina juga berkisar 100 peso – 200 peso. Untuk kelas yang mahal, Sevel tentu tidak menjual karena mungkin tingkat perputaran yang kecil dan bisa menyebabkan kerugian Sevel sendiri.

Pendapatan atau keuntungan yang didapat dari menjual minuman alkohol memang lumayan, namun bukan berarti tanpa menjual minuman beralkohol, Sevel akan bangkrut bukan? Sesungguhnya bagaimana manajemen tersebut melakukan perapihan di internal agar semuanya berjalan lancar. Jika manajemen bisa mengatur semuanya dengan baik, tentu tidak ada masalah sampai dengan kebangkrutan, atau alasan investor bla bla bla itu.